Dari Alumni Lokalisasi Batu 24 Jadi Pengusaha Laundry Sukses di Tanjungpinang

Tanjungpinang, Batamnews – Wina, bukan nama sebenarnya, kini adalah pengusaha sukses di Tanjungpinang dengan tiga cabang laundry. Namun, di balik kesuksesannya, tersembunyi masa lalu yang penuh perjuangan.

Dulunya, Wina bekerja sebagai pekerja seks komersial (PSK) di Lokalisasi Batu 24, Kabupaten Bintan. Berkat bantuan modal usaha dari pemerintah, yang awalnya dimaksudkan untuk mendukung relokasi PSK ke kampung halaman mereka, Wina justru menggunakan kesempatan ini untuk mengubah hidupnya.

Dengan dana sebesar Rp 4 juta yang diterimanya, Wina memilih berinvestasi dalam usaha laundry. Awalnya, ia membeli dua mesin cuci bekas seharga satu jutaan masing-masing.

Seiring berjalannya waktu, usaha yang dirintisnya semakin berkembang hingga kini ia memiliki puluhan mesin cuci baru dan berkelas, bahkan mampu membuka tiga cabang di Tanjungpinang.

Ketika ditemui, Wina masih merasa sungkan berbicara tentang masa lalunya. Ia ingin menjaga nama baik keluarga dan melindungi anak-anaknya dari mengetahui latar belakang tersebut.
Namun, ia berbagi cerita tentang bagaimana lingkungan tempat tinggalnya, Lokalisasi Batu 24, dikenal dengan transaksi seksual. Menurutnya, kehidupan di sana lebih dari sekadar stigma yang dilekatkan pada kawasan tersebut.

Di tahun 1990-an, pemerintah bersama pengembang merelokasi para penghuni lokalisasi di Kilometer 16, Desa Toapaya Asri, Kecamatan Gunung Kijang, ke kawasan baru bernama Kampung Bukit Indah.

Jumlah PSK saat itu sekitar 800 orang, dan seluruh perekonomian mereka bergantung pada jasa seksual. Namun, situasi saat ini berbeda.

Wina memperkirakan hanya sekitar 60 hingga 70 PSK yang masih beroperasi di sana, sedangkan sisanya adalah masyarakat biasa yang mencari penghidupan di luar kawasan itu.

Meski ada perbedaan status pekerjaan, toleransi telah lama terjalin di antara warga lokalisasi. Mereka hidup berdampingan dengan saling menghormati, tanpa mengganggu satu sama lain.

Bahkan, masjid berdiri di tengah kawasan itu, dan anak-anak, termasuk anak-anak PSK, diajarkan mengaji. Wina mengenang bagaimana sebelum masjid dibangun, kegiatan mengaji dilakukan dari rumah ke rumah, diajarkan oleh warga setempat.

Dalam menjalankan usahanya, Wina mencerminkan ketekunan dan keyakinan bahwa perubahan itu mungkin.

Dari yang hanya menyewa tempat, kini ia memiliki bangunan sendiri untuk usahanya. Wina menjadi contoh bahwa dengan kemauan kuat dan kesempatan, siapa pun bisa mengubah jalan hidup mereka.

https://www.batamnews.co.id/berita-114683-dari-alumni-lokalisasi-batu-24-jadi-pengusaha-laundry-sukses-di-tanjungpinang.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *